Di Kemerdekaan yang Ke- 78, Yuk Beri Aksi Nyata Selamatkan Hutan Indonesia Dari Kepunahan

Saat ini negara kita tercinta, Indonesia telah memasuki usia yang ke 78 tahun. Di usianya yang ke 78 tahun ini, Indonesia telah banyak menghasilkan prestasi salah satunya adalah berhasil keluar dari pandemi Covid19 yang menyerang sejak tahun 2020 lalu. 

Namun di usia yang 78 tahun ini, masih banyak pekerjaan rumah Indonesia yang sampai sekarang belum selesai salah satunya adalah mengenai isu lingkungan tentang kebakaran hutan yang belum ada penyelesaiannya. 

Masih ingat saat masih sekolah dulu, kita selalu mendengar bahwa Indonesia adalah Zamrud Khatulistiwa. Siapa yang menyangka bahwa sosok Douwes Dekkerlah yang memberikan julukan tersebut jauh sebelum Indonesia merdeka. Kata Douwes Dekker, Indonesia seperti untaian zamrud karena saat itu masih banyak hutan di Indonesia dan membentang di sepanjang garis khatulistiwa. 

Ternyata sejak Douwes Dekker masih hidup, keindahan alam Indonesia digambarkan sebagai sebuah kerajaan yang kaya dan indah sampai Douwes Dekker begitu mengaguminya. 

Karena luasnya hutan yang dimiliki Indonesia, maka tidak salah kalau Indonesia berhasil meraih prestasi sebagai hutan ketiga terluas di dunia versi Forest Watch Indonesia (FWI) yang akhirnya membuat Indonesia mendapat julukan lain sebagai paru-paru dunia. 

Memang keindahan hutan Indonesia memang tidak ada lawan, selain kaya vegetasi floranya. Hutan Indonesia juga kaya akan faunanya. Sebut saja Orang Utan, Harimau Sumatera, Harimau Jawa, Badak Jawa, Badak Sumatra, Gajah Sumatra, Burung Cendrawasih, Owa dan masih banyak lagi yang hanya bisa ditemukan di hutan Indonesia. 

Selain sebagai rumah ribuan spesies flora dan fauna, hutan Indonesia juga menjadi rumah dari berbagai suku seperti suku anak dalam di hutan Jambi dan Sumatera Selatan, suku Punan Batu di Kalimantan Utara, Baduy di Banten, Suku Sani dan suku Korowai di Papua, Suku Kajang di Sulawesi Selatan, Suku Togutil di Maluku Utara dan Suku Polahi di Gorontalo.

Selain sebagai paru-paru dunia, ternyata hutan Indonesia juga sebagai penghasil kayu terbaik di dunia. Sebut saja kayu ulin, jati, sengon dan trembesi yang keberadaanya melimpah di dalam hutan Indonesia. Sayangnya karena tingginya permintaan akan kayu-kayu ini malah membuat hutan menjadi rusak karena keserakahan manusia. 

Selain tingginya deforestasi, ternyata kebakaran hutan menjadi "penyakit" langganan yang selalu di alami hutan-hutan di Indonesia. Seperti infografis yang diambil dari katadata.com dibawah ini. 


Infografik yang menunjukkan Indonesia langganan kebakaran. Sumber:katadata.com 

Dari data diatas ternyata hutan Indonesia sudah langganan kebakaran sejak tahun 1997. Dimana pada tahun 1996 dan 2015 menjadi kebakaran terparah. Bahkan akibat kebakaran di tahun 2016 dan 2015, negara mengalami kerugian yang ditaksir mencapai 4,45 miliar dolar pada 1997 dan 16,1 miliar dolar pada 2015. Bukan angka yang sedikit ya.

Akibat sering jadi langganan kebakaran ini, dampaknya sekarang mulai kita semua rasakan. Salah satu yang paling nyata adalah kekeringan seperti saat ini. 

Seperti kita tahu saat ini Indonesia tengah memasuki musim kemarau. Berbeda dengan musim kemarau di tahun-tahun sebelumnya. Musim kemarau kali ini bersamaan dengan fenomena El Nino yang menyebabkan musim kemarau tahun ini diprediksikan lebih kering dan lebih panjang dibandingkan musim kemarau di tahun sebelumnya. 

                            Tanah yang mengalami kekeringan. Sumber: Pexels.com

Dikutip dari situs bmkg.go.id, akibat fenomena El Nino Indonesia akan mengalami musim kemarau yang lebih kering, tutupan awan berkurang hingga menyebabkan curah hujan berkurang dan suhu lebih panas dibanding sebelumnya. 

Tidak hanya kekeringan, akibat hilangnya fungsi hutan ini polusi di udara juga tidak bisa diserap secara maksimal oleh tumbuhan karena jumlahnya yang semakin terbatas. Ditambahkan dengan suhu tinggi akibat pemanasan global mengakibatkan polusi tetap berada di atmosfer. 

Perlu diketahui bahwa jika situasi ini tidak diatasi maka tumbuhan akan mengalami kesulitan fotosintesis. Yang mana fotosintesis adalah proses vital dalam keseimbangan ekosistem. Coba bayangkan jika tumbuhan tidak bisa lagi berfotosintesis, kita mungkin tidak bisa melihat buah dan menghidup oksigen di masa depan. 

Jadi apa solusi mengatasi kebakaran hutan dan lahan#BersamaBergerakBerdaya #UntukmuBumiku?

1. Stop deforesisasi dorong reboisasi

Salah satu cara yang paling mudah dan cepat untuk menjaga hutan kita dari kepunahan adalah dengan menghentikan praktek deforesisasi sekarang juga. Setelah itu ikut serta mendorong pemerintah atau instansi terkait untuk melakukan reboisasi massal. Kita tahu untuk menjadikan hutan hidup kembali tidak instan. Butuh belasan hingga puluhan tahun agar hujan bisa kembali lestari seperti sedia kala. Namun itu lebih baik daripada tidak ada aksi sama sekali. 

2. Dorong aksi sustainable life untuk mengurangi beban hutan

Sustainable life adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa mengurangi sumber energi untuk generasi berikutnya. Dengan menerapkan sustainable life ini kita didorong untuk hidup lebih bertanggung jawab akan apa yang kita pakai, makan dan gunakan. 

Dengan menerapkan sustainable life secara nyata bisa mengurangi ketergantungan kita pada hutan sebagai penyedia bahan baku. Kita bisa mulai melirik bahan-bahan bekas pakai yang bisa di daur ulang misalnya daun kering, limbah nanas, limbah kelapa dan masih banyak lain yang ternyata bisa diolah menjadi produk baru layak pakai. Jika praktek ini dilakukan secara tidak langsung kita membantu mengurangi beban hutan dalam kebutuhan industri.  

3. Cegah kebakaran hutan melalui pendidikan

Kebakaran hutan biasanya terjadi di setiap musim kemarau. Baik disebabkan oleh gesekan antar ranting pohon ditambah panas dan angin, ternyata sebagian kebakaran hutan di Indonesia disebabkan oleh ulah manusia. Misalnya pembakaran lahan hingga putung rokok yang sengaja di buang begitu saja. 
Jadi penting edukasi sejak dini tentang pentingnya mencintai hutan dengan memasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. 

Mengapa penting? karena kita tinggal di negara dengan bentang hutan terluas ketiga di dunia. Seharusnya kita juga dibekali pengetahuan mengenai pentingnya menjaga hutan, seberapa banyak yang boleh kita ambil dari hutan, manfaat hutan hingga pengetahuan tentang flora fauna yang hidup di dalam hutan. Tujuannya agar setiap generasi lebih tahu bahwa keberadaan hutan itu sangat penting sepenting oksigen untuk bernafas, air untuk minum dan makanan untuk hidup. 

Jadi  "Yuk #BersamaBergerakBerdaya menjaga hutan!". Sekecil apapun aksi kita sangat berharga bagi kelestarian hutan berserta keanekaragaman hayati yang hidup di dalamnya. Sudah cukup banyak yang sudah hutan berikan pada kita, sudah waktunya kita membalas dengan "Yuk #BersamaBergerakBerdaya menjaga hutan!". Mari di usia Indonesia yang ke 78 tahun ini "Yuk#BersamaBergerakBerdaya menjaga hutan!" dengan aksi nyata bukan janji belaka!. #UntukmuBumiku!.



Sumber: 
  • https://www.bmkg.go.id/berita/?p=63-wilayah-sudah-masuk-musim-kemarau-indonesia-bersiap-hadapi-el-nino&lang=ID
  • https://www.kompas.id/baca/nusantara/2023/08/14/kualitas-udara-pontianak-dan-kubu-raya-sangat-tidak-sehat
  • https://www.its.ac.id/news/2020/11/21/menilai-kelayakan-hutan-indonesia-sebagai-paru-paru-dunia/#:~:text=Kampus%20ITS%2C%20Opini%20%E2%80%93%20Di%20tahun,Indonesia%20dijuluki%20Paru%2Dparu%20Dunia.
  • https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-61295212

Postingan populer dari blog ini

[Review] Majalah Bobo Edisi 50 Tahun, Ajak Pembaca Bernostalgia Dengan Bobo Dari Tahun 1975 Hingga Sekarang

Resep 'Open Sandwich With Egg Balastra Bread', Dijamin Ogah Lagi Makan Di Cafe